<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=336640328218264&amp;ev=PageView&amp;noscript=1">

Pendapat

PERJALANAN BALI UNITED MENUJU BURSA SAHAM

Bagikan

4 Maret 2022

4 Maret 2022

Beberapa tahun lalu, di saat banyak klub Indonesia masih kesulitan menggalang dana, Bali United muncul dengan manuver out of the box. Kubu Serdadu Tridatu melakukan suatu terobosan bagi klub Asia Tenggara: Melantai di bursa saham.

Bukan rahasia kalau source of funding menjadi salah satu sorotan tajam bagi klub Tanah Air. Hanya satu dekade lalu, klub-klub Tanah Air bergantung hampir sepenuhnya ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Tentu saja, menggunakan uang rakyat untuk bal-balan menciptakan protes dari kiri-kanan karena potensi penyimpangan dan penghamburan dana daerah yang disebabkan.

Hingga awal 2011, hanya Persib Bandung, Pelita Jaya Purwakarta, Arema Malang, dan Semen Padang yang tak memakan uang negara.

Hal ini baru berubah setelah Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi melarang pemerintah daerah menggunakan anggaran mereka untuk klub sepak bola.

Regulasi tersebut tertuang di Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 tahun 2011. Efektif 1 Januari 2012 dan seterusnya, pemerintah daerah tak boleh lagi membiayai klub sepak bola profesional.

Dana pemerintah hanya boleh dipakai untuk olahraga level amatir dengan jalur pembinaan, itu pun lewat KONI (Komite Olah Raga Indonesia).

Kelahiran Bali United

Mulai dari situ, mulailah transformasi sepak bola Indonesia dari mengandalkan uang rakyat menjadi perjuangan masing-masing klub menggulirkan roda perekonomian mereka sendiri.

Salah satu kekuatan baru sepak bola Indonesia lahir setelah Pieter Tanuri mengakuisisi Putra Samarinda (Pusam) dari Harbiansyah Hanafiah pada 2014.

Nama Pusam lantas diganti pertama dengan Bali United Pusam untuk berpartisipasi di Liga Indonesia.

Kemudian, Bali United Pusam pindah markas dari Kalimantan Timur ke Gianyar Bali sebelum memakai nama Bali United pada 2016..

Tiga tahun berlalu dan Bali United memulai petualangan besar dengan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 17 Juni 2019.

Di Eropa sana, bukan barang baru bagi klub sepak bola untuk melakukan IPO (Initial Public Offering) atau mencatatkan saham perdana ke bursa saham. The Economist  mencatat ada 27 tim yang telah melantai di bursa pada medio 1990-an.

Namun, Bali United menjadi pionir di Asia Tenggara.

Meroket Pesat di Awal

Bali United lewat PT Bali Bintang Sejahtera Tbk. memulai petualangan di bursa saham dengan hentakan. Mereka melepas 2 miliar saham atau 33,3 persen saham kepemilikan dengan harga penawaran perdana sebesar Rp175 per lembar.

Sambutannya sangat positif. Saham BOLA menjadi yang paling menguntungkan pada hari peluncuran.

Menurut TEMPO, Bali United merupakan top gainers setelah saham mereka menguat 121 poin atau 69,14 persen. Saham per lembar Bali United meroket jadi Rp296 dan, menurut CNN Indonesia, sempat dua kali menyentuh batas auto reject atas yang berdiri di angka 70 persen untuk listing pertama kali.

Saham BOLA bahkan melesat 142 persen selama sepekan dan menyentuh level Rp800/saham.

Mereka melawan tren di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan menghijau selama sepekan beruntun dan menyentuh batas auto rejection atas tiga kali.

Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menghentikan sementara perdagangan saham BOLA pada awal Agustus.

"Sehubungan dengan terjadinya peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada saham BOLA, dalam rangka cooling down, BEI memandang perlu untuk melakukan penghentian sementara perdagangan saham BOLA pada perdagangan tanggal 2 Agustus 2021," tulis pengumuman BEI saat itu.

Menurut BEI, penghentian sementara perdagangan Saham BOLA tersebut dilakukan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai dengan tujuan untuk memberikan waktu memadai bagi pelaku pasar untuk mempertimbangkan secara matang berdasarkan informasi yang ada dalam setiap pengambilan keputusan investasinya di saham BOLA.

Perjalanan awal indah bagi Yabes Tanuri dan para petinggi Bali United yang meraup Rp350 miliar hasil penjualan saham tersebut demi membenahi berbagai sektor lain dari klub, termasuk pembenahan stadion dan mendirikan tim eSports.

Satu lagi keuntungan melantai di bursa adalah transparansi keuangan. Dikutip dari Kumparan Bisnis, pada 2019 saat Bali United menahbiskan diri sebagai juara Liga 1, klub meraup pendapatan Rp 215,21 miliar rupiah, peningkatan sebesar 86,81 persen ketimbang tahun finansial sebelumnya yang berada di angka 115,20 miliar.

Hal ini persis seperti yang ditulis Wall Street Journal pada 1998 perihal kinerja saham klub bola yang sangat terkait dengan performa di lapangan.

Efek Pandemi

Namun, pandemi datang dan seperti semua klub olahraga serta pasar saham global, Bali United merasakannya. Sepanjang semester 1 2020, Bali United mencatatkan penurunan pendapatan 36,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Mereka rugi bersih 12,51 miliar rupiah pada kuartal 1 2020 dibanding keuntungan 4,52 miliar rupiah yang mereka catatkan pada kuartal 1 2019.

Berdasarkan catatan Kumparan, saham BOLA sempat melorot pada titik terendah menyentuh Rp 131 per lembar sahamnya atau turun sekitar 55 persen dibanding awal mula melantai di BEI.

Namun sepanjang 2021, saham BOLA mengalami kenaikan sekitar 60 persen.

Bali United sendiri mendirikan beberapa anak perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap hasil di lapangan dan bursa transfer.

Di antaranya, mereka mendirikan PT Bali Boga Sejahtera (industri food and beverages), PT Kreasi Karya Bangsa (Perdagangan Umum dan Jasa), serta PT IOG INdonesia Sejahtera (di bidang aktivitas olahraga dan rekreasi).

Berita terkini pada 4 Februari 2022 menyebutkan Pieter Tanuri kembali melakukan pembelian saham emiten.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Pieter membeli 2,5 juta saham BOLA di angka Rp412 per lembar senilai total Rp1,03 miliar rupiah pada 25 Januari 2022.

Menurut keterbukaan informasi dari lantai saham, jumlah saham yang dimiliki Pieter mencapai 2.398.328.820 saham atau setara dengan 39,97% dari total saham BOLA, dari sebelumnya 39,93%.

"Tujuan dari transaksi adalah untuk investasi dengan status kepemilikan langsung," jelas Pieter Tanuri.

Latest articles

Tinggalkan Komentar

Pedoman Berkomentar

Mari berkomentar dengan sopan dan hindari penggunaan bahasa atau frasa yang dapat disalahartikan sebagai menyinggung. Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi syarat penggunaan kami. Terima kasih!


Silakan masuk atau daftar untuk melihat dan menulis komentar.