<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=336640328218264&amp;ev=PageView&amp;noscript=1">

Pendapat

PEMAIN INDONESIA DAN TANTANGAN BERMAIN DI LUAR NEGERI

Bagikan

28 Maret 2022

28 Maret 2022

Pemain-pemain Indonesia kian berani melebarkan kepak sayap mereka untuk bermain di luar negeri. Para pemain Garuda kini merumput antara lain di Malaysia, Thailand, Polandia, Korea Selatan, dan Jepang.

Akan tetapi, tak semua pesepak bola kita punya keberanian (atau kesempatan) untuk bermain di luar liga domestik. 

Padahal, secara talenta, para pemain Indonesia tak kalah kemampuan teknik untuk bersaing.

Hal ini pernah disampaikan oleh pelatih spesialis sepak bola akar rumput, Jaino Matos, kepada Kompas.com beberapa waktu silam.

Pria yang berjasa dalam pendirian Diklat Persib itu bahkan mengatakan pemain Indonesia seminimnya punya kapasitas teknik untuk bermain di Liga Thailand.

"Pemain kita punya kemampuan minimal dan harus bisa bermain di Thailand atau di level Asia: Jepang, Korea Selatan, Qatar, dan Arabi Saudi," kata pelatih asal Brasil tersebut. 

Menurut Jaino, liga tetangga kita, Malaysia, sudah lagi bukan level para pemain Tanah Air.

Sang pelatih punya pengalaman intensif di kedua negara sehingga layak membandingkan level kompetisi Indonesia dan Malaysia. Jaino telah tujuh tahun menjelajah sepak bola Indonesia dan pernah enam tahun bergelut di sepak bola Malaysia.

"Malaysia di bawah Indonesia, baik liga dan kualitas pemainnya," tutur pelatih berusia 41 tahun tersebut.

BACA JUGA:

Menurutnya, para pemain muda yang merumput di Indonesia harus merangkul kesempatan untuk bermain di liga-liga terbaik Asia.

"Di Tanah Air banyak pemain berpotensi dan bertalenta. Tentu saja terus mesti dibina secara sistematis, baik di klub maupun timnas." 

"Talenta Indonesia itu sanggup. Pemain seperti Febri Haryadi, Saddil Ramdani, Asnawi Mangkualam, Abdul Aziz (Persib) bisa main main di Jepang dan Arab Saudi, bukan Malaysia. Paling tidak Thailand," pungkasnya.

ef273a4cd9968fdb5a0511da22399d914bc554c7Apakah sudah seharusnya Febri bermain di luar negeri? | Foto: Alvino Hanafi (Goal.com)

Disiplin dan Attitude Menjadi Kunci

Akan tetapi, ia juga menambahkan, disiplin dan attitude para pemain turut memengaruhi perkembangan mereka.

“Melalui riset, data, dan bukan hanya opini, selama tujuh tahun itu, kesimpulannya yang perlu kita pikir adalah sikap pemain,” tutur pelatih pemegang lisensi CBF PRo tersebut.

Attitude, keseriusan, dan kesungguhan di dalam lapangan.”

“Saya lihat pemain muda dan bahkan senior juga masih membawa sikap di dalam lapangan hijau yang terlalu banyak bercanda. Kami sering melihat itu. Itu yang membuat kami khawatir,” imbuhnya.

Bahkan, data dan pendekatan sports science yang telah ia kedepankan selama ini menunjukkan hal lebih mencengangkan lagi.

“Berdasarkan data GPS dari klub dan timnas tujuh tahun ini, cuma 25 persen pemain yang latihan sungguh-sungguh. Ini bukan opini, ini data GPS,” ujar Jaino Matos.

088774000_1465846976-_20160613NH__Galeri_Madura_vs_Persiba_07Jaino Matos memiliki pandangan menarik terhadap pemain Indonesia | Foto: Bola.com/Nicklas Hanoatubun

“Artinya, apabila satu tim berisi 25 pemain, hanya 4-5 yang berlatih dengan kesungguhan maksimal,” lanjutnya.

Lagi-lagi attitude seorang pemain memengaruhi perkembangannya sebagai pemain karena beberapa pemain muda menurutnya tidak mau mendengar, merasa sudah puas, dan juga “dilindungi” petinggi klub.

“Ada pemain yang memiliki kesadaran, ketika feedback data, mereka mau mendengar. Tapi sebagian besar tidak ingin mendengar, mereka sudah merasa puas, sudah merasa cukup, dan ada perlindungan dari atasan,” kata Jaino Matos.

“Di klub-klub Liga 1, ada tembok yang besar antara pelatih dan pemain, karena pemain merasa dekat dengan bos, presiden, owner klub, seolah-olah mereka bisa seenaknya. Banyak,” imbuh pelatih berusia 40 tahun tersebut.

Pujian Bagi yang Bermain di Luar Negeri

Oleh karena itu, keputusan beberapa pemain untuk berkarier di luar negeri pun mendapat pujian.

Salah satunya adalah ketika Pratama Arhan menerima tawaran bermain dua tahun bersama Tokyo Verdy di Liga Jepang pada bulan ini.


Menurut eks striker timnas Merah Putih, Kurniawan Dwi Yulianto, keinginan sang bek kiri untuk menguji diri di salah satu liga terbaik Asia tersebut pantas diacungi jempol.

Kurniawan Dwi Yulianto berpendapat tidak pernah ada ruginya bagi seorang pemain untuk mencoba peruntungan bermain di luar negeri. 

Menurutnya, bakal banyak hal baru yang bisa didapatkan di luar sana ketimbang bertahan di liga domestik. "Bagus, artinya mereka ingin meningkatkan kemampuan untuk bersaing di level sepak bola yang lebih tinggi daripada sepak bola kita," ujar pelatih yang biasa disapa Kurus tersebut kepada Kompas.com.

 "Jadi, ini kesempatan juga buat mereka bahwa umur pesepak bola itu kan tidak lama. Jadi, ketika mereka punya mimpi yang tinggi, ya harus dibarengi dengan usaha keras." 

"Mungkin kalau main di Indonesia)mereka bisa mendapat tempat utama. Tetapi ketika bermain atau mencoba keberuntungan di kompetisi yang levelnya lebih tinggi tentu ekstra kerja keras," imbuhnya.

Tak hanya itu, secara attitude, pemain-pemain yang merumput di luar negeri pun menunjukkan perubahan positif dalam hal gaya hidup.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Teknik Timnas Indonesia, Indra Sjafri.

“Ada beberapa pemain yang memang bermain di luar negeri, saya selaku pelatih yang juga menangani mereka melihat hal-hal positif pertama adalah lifestyle,” kata Indra, dilansir Youtube R66 Media pada awal tahun ini.

“Mereka memperlihatkan bagaimana sikap dan gaya hidup seorang profesional, itu sudah terlihat. Mereka bisa tanpa disuruh, tanpa diatur. Masalah yang mendasar bagi kita, tidak ditemui lagi di pemain yang bermain di luar negeri,” sambungnya.

Jangan Menyia-nyiakan Kesempatan

Oleh karena itu, salah satu pemain yang merumput di luar negeri, Yanto Basna, berpesan kepada seluruh pesepak bola Indonesia untuk berani melangkah tidak menyia-nyiakan tawaran bermain di luar negeri. 

Dari pengalamannya, ada banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang didapatkan dengan bermain di luar negeri. 

Mantan pemain Mitra Kukar itu juga mengaku menyesal karena baru pada 2018 memberanikan diri untuk mencari peruntungan di luar negeri. Seharusnya, kesempatan bermain di luar negeri diambilnya sejak dulu. 

2887459566Yanto Basna menikmati waktunya di Liga Thailand | Foto: BG Pathum

"Karena ada banyak hal yang saya pelajari di luar sana, makanya saya selalu mengajak generasi penerus untuk berani bermimpi besar dan jika kesempatan itu (main di luar negeri) datang, ambillah," kata Basna. 

"Saya pribadi menyesal, menyesal karena kenapa tidak dari dulu saya berani ambil langkah untuk bermain keluar dari Indonesia," tutur pemain yang bahkan rela memakai biaya sendiri demi menjalani seleksi ke Jepang tersebut.

BACA JUGA:


Penyesalan serupa pernah diutarakan winger lincah Andik Vermansah saat ia menolak tawaran dari kubu Liga Jepang Ventforet Kofu dan lebih memilih bermain di Malaysia.

Pemain asal Jember tersebut pun mengakui itu menjadi penyesalan terbesar sepanjang kariernya. “Ya saya pernah di Jepang selama satu minggu di Kofu. Di situ saya ujicoba pertama kali dan cetak gol,” ujar Andik kepada Kompas.com. 

“Orang sana berharap saya tanda tangan, memang ada tawaran. Tetapi waktu itu saya memilih Selangor,” imbuhnya.

Latest articles

Tinggalkan Komentar

Pedoman Berkomentar

Mari berkomentar dengan sopan dan hindari penggunaan bahasa atau frasa yang dapat disalahartikan sebagai menyinggung. Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi syarat penggunaan kami. Terima kasih!


Silakan masuk atau daftar untuk melihat dan menulis komentar.