<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=336640328218264&amp;ev=PageView&amp;noscript=1">

Pendapat

BOSMAN RULLING DAN PENGARUHNYA KEPADA SEPAKBOLA DUNIA

Bagikan

6 Maret 2022

6 Maret 2022

Tak ada tim di dunia sepak bola yang bisa menggambarkan betapa besar dampak Peraturan Bosman selain Ajax Amsterdam pada pertengahan 1990-an. The Amsterdammers di ambang melihat dinasti mereka menguasai Benua Biru sebelum Peraturan Bosman menghancurkan mimpi tersebut.

Salah satu tim muda terhebat yang pernah merumput dalam sejarah sepak bola dunia dipecah ke seantero Eropa di luar kendali mereka.

Seberapa baguskah Ajax ketika itu? Well, antara 1994 dan 1996 Ajax mencatatkan 52 laga tak terkalahkan di kompetisi domestik.

ajax_1995-169Skuat Ajax yang mejuarai Liga Champions 1994/95 | Foto: Ajax

Ketika Ajax menjadi juara Liga Champions pada 1995, rentetan tak terkalahkan kubu Amsterdam berada di angka 69 pertandingan di semua kompetisi dalam periode 18 bulan.

Tak ada tim lain di dunia sepak bola hingga kini yang bisa menyamai prestasi para Amsterdammers, menjuarai gelar liga dan Liga Champions tanpa terkalahkan.

Hebatnya, pelatih Louis van Gaal tak dibekali oleh suntikan dana raksasa. Mereka berusaha mendatangkan bintang muda Ronaldo Nazario da Lima dari Cruzeiro, akan tetapi rival mereka PSV Eindhoven menyalip untuk merekrut pemain yang bakal jadi The Phenomenon itu berkat dukungan dana perusahaan raksasa Phillips.

Bermodal Pemain Akademi

Sementara, Ajax bergantung kepada produk akademi mereka, generasi emas sepak bola Belanda, dalam diri Edgar Davids, Edwin van Der Sar, Clarence Seedorf, Marc Overmars, dan Patrick Kluivert.

Sembilan dari 11 personel Ajax yang tampil pada laga final Liga Champions 1995 adalah pemain Belanda. Sementara, dua lainnya, Finidi George dan Jari Litmanen, telah berada di klub tersebut sejak masing-masing berusia 22 dan 21 tahun.

Kluivert, pada usianya yang masih 18 tahun, turun dari bangku cadangan dan menceploskan gol kemenangan pada final Liga Champions 1995 melawan barisan belakang AC Milan yang dikawal nama-nama legendaris Franco Baresi, Alessandro Costacurta, Paolo Maldini, dan Christian Panucci.

Tujuh dari pemain-pemain tersebut memulai laga final Liga Champions pada tahun berikutnya saat mereka kalah adu penalti dari Juventus. Nyaris. Mereka nyaris jadi tim pertama sepanjang sejarah yang berhasil mempertahankan Liga Champions.

Ajax Amsterdam di ambang kehebatan berkelanjutan mengingat secara rerata ketika itu pemain jebolan De Toekomst, akademi Ajax, menghabiskan 9 tahun di klub.

Namun, suatu kejadian besar mengubah paradigma dan balans kekuatan di Eropa di antara kedua final tersebut.

Suatu perubahan raksasa yang magnitudo kekuatannya terasa sampai sekarang ini dan jauh-jauh ke depan.

Berawal dari Liga Belgia, ke Dunia

Suatu keputusan bernama Peraturan Bosman diterapkan pada musim panas 1995. Jean-Marc Bosman adalah pemain asal Belgia yang ingin pindah klub setelah kontraknya bersama RFC Liege di Liga Belgia habis pada 1990.

Usahanya untuk pindah ke klub Prancis, Dunkerque, menemui tembok setelah kubu Liege menganggap klub Prancis itu tak punya aliran dana memadai.

Bosman diganjar pengurangan gaji 70 persen karena ia tak lagi anggota klub utama dan klub menahan sertifikat transfer sang pemain.

Liege pun menghukum sang pemain satu musim penuh, sesuai peraturan di Liga Belgia yang memang boleh menjatuhkan skorsing kepada seorang pemain apabila kedua pihak tak dapat menyepakati kontrak baru.

Delapan hari kemudian, Bosman memulai kasus hukum melawan Liege dan federasi Belgia karena mencegahnya berpindah klub.

Setahun kemudian, ia juga menambahkan UEFA ke kasus hukum tersebut sebagai pihak yang mengatur sistem transfer. Ia kemudian mendapat dukungan dari asosiasi pemain di Belanda dan Belgia.

Lima tahun kemudian, pada 15 Desember 1995, Pengadilan Eropa (European Court of Justice), akhirnya memihak kepada Bosman.

085918600_1450185329-bosmanJean-Marc Bosman mengubah wajah transfer sepak bola modern. | Foto: Liputan6.com/thescore.com

Kasus Bosman mengubah tatanan sepak bola profesional. Pemain yang telah habis kontrak sekarang bebas untuk menandatangani ikatan kerja dengan klub mana pun. Keseimbangan kekuatan menjadi bergeser dari klub ke pemain.

Pemain Tak Lagi Seperti Kuda, Ayam, atau Sapi

“Para pemain pada abad ke-21 kini punya hak untuk berpindah tempat seperti pekerja mana pun dan tak diperlakukan seperti kuda, ayam, atau sapi,” ujar Bosman, seperti dikutip dari situs FIFPro.

Pada putusan sama, ECA juga melarang setiap klub membatasi pemain Uni Eropa.

Konsekuensinya, terutama bagi Ajax, luar biasa besar. Walau Seedorf telah ditransfer ke Sampdoria pada 1995 dan Frank Rijkaard pensiun pada musim panas sama, skuad bermain mereka dicincang kiri-kanan mulai musim panas 1996.

Edgar Davids adalah yang pertama pindah berkat aturan tersebut saat ia berlabuh ke AC Milan. Bek kanan Michael Reiziger kemudian menyusul. Patrick Kluivert dan bek Winston Bogarde kemudian melakukan hal sama setahun setelahnya.

Empat pemain terbaik Ajax pindah ke AC Milan dalam kurun waktu hanya dua tahun, tanpa klub mendapat kompensasi sepeser pun.

“Sulit untuk mempersiapkan diri, tak ada yang tahu ketika itu konsekuensinya akan seperti ini,” tutur Van Gaal. “Kami berupaya membuat para pemain komitmen jangka panjang ke klub tetapi beberapa dari mereka langsung memilih pergi secara bebas transfer.”

Hanya empat tahun setelah final 1995, tak ada lagi pemain dari tim yang berpartisipasi di laga tersebut tersisa, termasuk sang manajer Van Gaal.

“Setelah Bosman, negara-negara kaya datang dan mengambil pemain-pemain mereka,” ujar eks kapten Ajax, Frank Arnesen.

“Kami berada dalam periode sulit di mana Ajax adalah klub besar di negara kecil. Mereka punya masalah ekonomi karena kasta kedua di Inggris, Divisi Championship, mendapatkan uang lebih banyak dari TV ketimbang kasta tertinggi di Belanda.”

Nasib Bosman Kini

Kendati kasus yang dimenangkan Bosman ini menguntungkan ribuan pemain dan agen mereka, sang pria itu sendiri tak mendulang kekayaan.

Sebaliknya, ia hampir tak memiliki apa-apa. Kasus hukum selama lima tahun itu membuat pernikahannya buyar, rekan-rekannya menjauhi, dan menjadikannya seorang alcoholic. Ia juga didakwa melakukan kekerasan kepada pacar dan putri remajanya.

Hanya beberapa pihak yang membantunya secara sukarela. Salah satunya adalah Adrien Rabiot yang menyumbang 12.000 euro pada 2019 setelah gelandang asal Prancis itu pindah dari Paris Saint-Germain ke Juventus memanfaatkan Peraturan Bosman.

Pria yang kini berusia 57 tahun itu pun melewati hari demi hari dengan mengandalkan bantuan dana dari FIFPro.

“Dia menjadi pariah,” tutur David Ginola, yang menjadi host dalam acara dokumenter Bosman - The Player Who Changed Football.

“Dunia sepak bola aneh. Jika Anda tetap di tengah jalan, tak masalah. Jika Anda tak mencoba membuat perubahan besar, tak masalah.”

“Namun, apabila Anda memutuskan bergerak ke kiri atau kanan dan membuat pendirian akan sesuatu, sepak bola akan berkata, ‘mainlah sepak bola saja dan diam’,” lanjutnya.

Latest articles

Tinggalkan Komentar

Pedoman Berkomentar

Mari berkomentar dengan sopan dan hindari penggunaan bahasa atau frasa yang dapat disalahartikan sebagai menyinggung. Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi syarat penggunaan kami. Terima kasih!


Silakan masuk atau daftar untuk melihat dan menulis komentar.