<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=336640328218264&amp;ev=PageView&amp;noscript=1">

Pendapat

MEREKA YANG TETAP MENGGILA WALAU TAK LAGI MUDA

Bagikan

30 April 2022

30 April 2022

Bagi sebagian pesepak bola, umur tak lebih dari hitung-hitungan angka belaka. Mereka seperti anggur, makin tua makin sedap, dan seperti kayu bakar, makin tua makin sanggup mengobarkan api. Liga 1 pun tak kekurangan pemain-pemain demikian. Mulai dari Herman Dzumafo hingga Maman Abdurrahman, inilah mereka yang tetap menggila walau tak lagi muda.

Herman Dzumafo

Siapa bilang lapangan sepak bola hanya milik mereka yang masih muda? Di usianya yang sudah menginjak 42 tahun, Herman Dzumafo masih sanggup menjadi penggawa Bhayangkara FC. 

Mengutip statistik Transfermarkt, Dzumafo turun arena 13 kali bersama The Guardian pada Liga 1 2021/22. Lewat penampilannya tersebut, ia mencetak 6 gol dan 2 assist. Meski tak bermain sesering dulu, Dzumafo tetap sanggup diandalkan, terutama ketika timnya mengalami kebuntuan. Ambil contoh saat Bhayangkara berhadapan dengan Barito Putera pada Februari 2022. Ketika itu, ia masuk pada menit 82 menggantikan Wahyu Subo.

Herman Dzumafo, senjata rahasia Bhayangkara FCDzumafo masih menjadi senjata rahasia Bhayangkara FC | Foto: Goal.com (Abi Yazid)

Dzumafo hanya membutuhkan waktu dua menit untuk mencetak gol penyama kedudukan 1-1 bagi Bhayangkara dengan memanfaatkan assist Adam Alis. Dengan cara itu, Dzumafo tidak hanya membuktikan bahwa ketajamannya belum sirna, tetapi juga kesanggupannya untuk menjadi andalan saat situasi terdesak.

BACA JUGA:
Cara pesepak bola Muslim tetap fit selama Ramadhan

"Kalau sekarang saya dipercaya sama coach itu, ya, itu karena kerja keras yang saya lakukan," kata Dzumafo kepada Bola. "Walaupun usia sudah cukup tua, saya yakin bisa bantu tim ini semaksimal mungkin. Saya tidak mau anggap umur sebagai batasan untuk bisa berikan kontribusi," sambungnya.

Dzumafo berasal dari Kamerun. Namun, sejak 2017 ia resmi berubah status menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Ada beberapa alasan yang membuat Dzumafo mau beralih jadi WNI. Salah satunya adalah ia sudah sangat lama bermain di liga sepak bola Indonesia, tepatnya sejak 2007. Sejauh ini sudah ada 10 klub yang pernah dibela Dzumafo. Mereka adalah Persikota, Arema Cronus, Persib, Sriwijaya FC, PSPS Pekanbaru, Persela, Gresik United, Mitra Kukar, Dewa United, dan Bhayangkara FC.

Victor Igbonefo

Victor Igbonefo punya peran penting di lini belakang Persib Bandung. Pemain 36 tahun itu menjadi andalan pelatih Robert Alberts.

Usia tua tanpa penurunan kualitas membuat Igbonefo tercatat sebagai pemain dengan nilai pasar tinggi. Terkini, nilai pasar Igbonefo mencapai angka 75 ribu euro atau sekitar Rp1,2 miliar.

Igbonefo sudah berkarib dengan sepak bola sejak muda. Ia tumbuh di tengah-tengah keluarga yang mencintai sepak bola. Dari situ, Igbonefo memupuk kecintaannya terhadap sepak bola dengan bergabung bersama akademi lokal asal Enugu, Nigeria, yang bernama Nigerdock Soccer Academy.

Walau sudah senior, Igbonefo masih menjadi andalanIgbonefo kala membela Persib | Foto: Goal.com (Alvino Hanafi)

Lulus dari Nigerdock, Igbonefo yang menunjukkan potensi yang besar bergabung dengan First Bank FC, sebuah klub amatir yang berada di divisi ketiga liga Nigeria. Di First Bank FC, status Igbonefo hanyalah berada pada tim junior. Selepas dari First Bank FC, bukan klub senior Nigeria yang menjadi tujuan karirnya selanjutnya melainkan Indonesia.

Keinginannya untuk bermain di Indonesia itu didukung penuh oleh keluarga yang memang selalu mendukung kariernya. Ia lantas hijrah ke Indonesia pada 2004.

Klub pertama yang ia bela adalah Persipura Jayapura. Catatan lainnya, Persipura merupakan klub senior yang pertama dalam karirnya.

Di Persipura, Igbonefo menjelma sebagai bek andalan di tengah. Dengan fisik kuat dan stamina prima khas Afrika, Igbonefo menjadi kunci penting pertahanan Persipura saat menjuarai Liga Super Indonesia 2009 dan 2011.

Igbonefo yang saat itu berduet dengan Bio Paulin di jantung pertahanan bisa disebut sebagai bek terbaik di Liga Super Indonesia. Ia bahkan luwes saat membantu penyerangan dan mencetak gol.Kualitas itu pulalah yang hingga kini terlihat darinya di Persib. Mengutip Transfermarkt, ia berlaga membela Persib 19 kali di Liga 1 2021/22 dan mencetak 1 assist. Ciri khas permainan Igbonefo adalah lugas, disiplin, dan ulet. Tak heran di usianya yang tak muda lagi ia tetap bisa menjadi andalan.

Beto Goncalves

Tetap gacor walau usia sudah menginjak 41 tahun adalah ciri khas yang kerap terlihat dari permainan Beto Goncalves. Bermain 15 kali untuk Persis Solo pada musim ini, ia mencetak 7 gol dan 3 assist. Itu artinya, ketajamannya belum menurun dimakan usia.

Totalitas adalah kunci yang membuat performa Beto selalu prima setiap kali turun arena. Tak heran jika ia pernah menyabet gelar pencetak gol terbanyak. Walau berasal dari Brasil, Beto bukan orang asing bagi ranah sepak bola Indonesia. Ia sudah malang-melintang di negeri ini. Salah satunya dibuktikan dengan perannya sebagai bomber Madura United. 

Beto masih fit di umurnya yang sudah menginjak 41 tahunBeto masih prima walau sudah berusia 41 tahun | Foto: Goal.com (Abi Yazid)

Striker naturalisasi ini mengawali karier sebagai pemain futsal saat berusia 10 tahun di kampung halamannya, Belem, Brasil. Menjelang 17 tahun, dia mengikuti seleksi di klub profesional Brasil, Tuno Luso. Beto dinyatakan lolos seleksi, tetapi hingga penutupan bursa transfer, namanya tidak didaftarkan. 

Bukan cuma sekali hal itu terjadi. Akan tetapi, Beto enggan menyerah. Setiap tahun ia mencoba untuk mewujudkan impiannya meski kerja keras adalah harga yang harus dibayar. Selepas seleksi ketiga, Beto mendapat saran untuk mencoba keberuntungan dengan mengikuti seleksi di Sport Belem Brasil. Kabar baik itu akhirnya datang juga. Beto dinyatakan lolos sehingga mendapat kesempatan untuk  membuktikan kualitasnya. Beto tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia mencetak tiga gol sekaligus dalam duel persabahatan tersebut.

BACA JUGA:
Football Manager lebih dari sebuah game biasa

Dalam laga resmi yang pertama, Sport Belem langsung bertemu tim kuat yang bernama Tuna Luso. Ya, begitulah. Klub ini sempat menjadi pengalaman pahit Beto. Meski demikian, kesempatan bermain yang didapat tak dibuangnya begitu saja.  Beto kembali memperlihatkan tajinya dengan menyumbangkan sebuah gol.

Ketajaman macam itu yang membuatnya berperan besar mengangkat Persis ke Liga 1. Beto, dalam usianya yang tak lagi muda, acap menjadi pemain teladan bagi para juniornya. Pengaruh itu pula yang membuatnya tetap dapat diandalkan tim. 

Maman Abdurrahman

Hampir selalu ada Maman Abdurrahman di jantung pertahanan Persija. Musim 2021/22 saja, ia turun arena 30 kali untuk Macan Kemayoran. Usia Maman memang sudah 39 tahun, tetapi kekuatan dan kegigihannya mengawal lini pertahanan Persija tak menyurut. Dengan cara itulah ia selalu mendapat tempat di hati Persija dan para suporter.

Maman menghadapi musim pasang dan surut di kariernya.

Tentu tak mudah baginya bertahan di sepak bola kasta tertinggi saat usianya hampir menginjak kepala 4. Terlebih Maman pernah mengalami cedera lutut saat berusia 33 tahun. Cedera itu membuatnya ingin gantung sepatu, mengakhiri kariernya sebagai pesepak bola. 

Maman ketika bermain bersama PersijaMaman masih menjadi andalan lini belakang Persija musim 2021/22 | Foto: Goal.com (Abi Yazid)

Maman sebenarnya mulai mengenal sepak bola saat SMP. Tak lama setelah itu, ia bermain di Piala Soeratin U-17. Dari situ bakat Maman terendus. Saat berusia 19 tahun, ia berstatus sebagai pemain magan Persijatim Solo, tepatnya pada 2001. Adalah Nur’alim, yang membawa Mastrans Bandung Raya dan Persija Jakarta juara Liga Indonesia, yang menjadi inspirasinya.

Maman lantas melebarkan sayapnya ke PSIS Semarang mulai dari 2005 hingga 2008, lalu pindah ke Persib. Maman lalu tercatat sebagai penggawa Sriwijaya FC setelah meninggalkan Persib. Di sinilah Maman mengalami periode sulit. Cedera menghantam sehingga ia harus menepi dalam waktu yang cukup lama.

Dalam wawancaranya di channel Youtube Persija, Maman mengaku bahwa di saat sulit itu ia ‘bertemu’ dengan kata-kata legenda Juventus, Alessandro Del Piero. Kata-kata Del Piero yang dibacanya saat itu, pemain hebat adalah pemain yang sanggup keluar dari masa sulit. Kata-kata itu memberinya kekuatan ekstra hingga akhirnya kita bertemu dengan Maman yang tetap tangguh di masa tuanya.

 

Bergabunglah bersama kami dalam menulis masa depan dari sepakbola

Latest articles

Tinggalkan Komentar

Pedoman Berkomentar

Mari berkomentar dengan sopan dan hindari penggunaan bahasa atau frasa yang dapat disalahartikan sebagai menyinggung. Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi syarat penggunaan kami. Terima kasih!


Silakan masuk atau daftar untuk melihat dan menulis komentar.