<img height="1" width="1" style="display:none" src="https://www.facebook.com/tr?id=336640328218264&amp;ev=PageView&amp;noscript=1">

Pendapat

CERITA MEMILUKAN DARI SEPAKBOLA GAJAH

Bagikan

28 Februari 2022

28 Februari 2022

Match fixing adalah sesuatu yang akut dalam sepakbola Asia Tenggara. Hampir semua negara di wilayah ini sudah mengalaminya. Bahkan beberapa dari negara-negara tersebut bisa selamat, dan melakukan revolusi besar dalam sepakbola mereka seperti yang terjadi kepada Vietnam.

Tetapi beberapa negara lain masih cukup kesulitan. Match fixing mungkin tidak terjadi di kompetisi top flight. Tetapi praktik kecurangan ini sering terjadi di kompetisi level bawah karena sorotan dan pengawasan tidak sebanyak di kompetisi utama.

Sementara untuk sepakbola Indonesia sendiri, istilah match fixing lekat dengan nama “Sepakbola Gajah”. Sebuah istilah yang melekat dari generasi ke generasi. Sebuah istilah yang menggambarkan sisi kelam dari sepakbola Indonesia.

Asal Mula Istilah “Sepakbola Gajah”

Asal dua versi terkait mula muncul istilah sepak bola gajah lahir pada 1988 saat pertandingan Divisi Utama Perserikatan 1987/1988 antara Persebaya Surabaya melawan Persipura Jayapura. Di pertandingan tersebut Persebaya sengaja mengalah dengan skor 0-12 untuk menjegal PSIS Semarang sebagai bentuk balas dendam.

Dendam tersebut muncul lantaran pada Divisi Utama Perserikatan 1985/1986 Persebaya merasa dikecewakan oleh PSIS karena mengalami kekalahan dari PSM Makassar yang menjadi pesaing utama Persebaya sehingga tidak bisa lolos ke babak 6 besar.

Versi kedua adalah, diketahui bahwa pada saat itu ada dua tim dari wilayah Indonesia timur yang mengikuti kompetisi yaitu Persipura Jayapura dan Perseman Manokwari, di akhir klasemen Perseman Manokwari dipastikan akan degradasi sehingga tinggal Persipura Jayapura untuk itu dibuatlah skenario agar Persipura Jayapura sebagai wakil Irian Jaya (nama Papua saat itu) dan Indonesia timur bisa bertahan di kompetisi Perserikatan agar penduduk Indonesia timur tetap memiliki hiburan olahraga.

Skenario tersebut berhasil dengan sempurna, selain bisa membuat Persipura bertahan di kompetisi Persebaya juga berhasil menyingkirkan PSIS Semarang gagal lolos babak 6 besar dan akhirnya Persebaya keluar sebagai juara setelah mengalahkan Persija Jakarta di pertandingan final yang dihelat di Stadion Utama Senayan, Jakarta pada tanggal 27 Maret 1988 dengan skor 3-2 setelah melalui babak tambahan waktu.

PSSI tidak menjatuhkan hukuman kepada Persebaya atas skandal tersebut karena pada waktu itu belum ada regulasi yang mengatur skandal semacam itu. hanya kebencian dari warga Kota Semarang dan Jawa Tengah yang didapat oleh Persebaya Surabaya. Setelah pertandingan kontroversial ini Persebaya mendapat julukan baru yang sebenarnya merupakan sebuah sindiran atau olok-olok yaitu "Bledug Ijo" (bahasa Indonesia: Anak gajah hijau) dan julukan tersebut sempat populer pada tahun 1990-an.

Tetapi di sisi lain, kasus ini juga merupakan asal mula kemunculan suporter legendaris Indonesia asal Surabaya, Bonek.Setelah Persebaya berhasil maju kebabak final kompetisi Divisi Utama PSSI 1987–88 yang tak bisa dilepaskan dari peristiwa sepak bola gajah ini, ribuan pendukung Persebaya dengan di koordinasi oleh pimpinan koran Jawa Pos saat itu yaitu Dahlan Iskan berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk mendukung Persebaya.

Kedatangan ribuan suporter Persebaya yang kebanyakannya hanya membawa uang pas-pas an ini akhirnya memunculkan celetukan perkataan "Bonek" yang maksudnya modal nekat. Dan dari peristiwa itulah kemudian istilah Bonek atau bondo nekat ini dipakai untuk menyebut kelompok suporter Persebaya Surabaya hingga sekarang.

Istilah “Sepakbola Gajah” kemudian berkembang sejak pertandingan tersebut. Kenapa kemudian diberi nama sepakbola gajah adalah, Di pertandingan Persebaya melawan Persipura tersebut juga dipimpin wasit yang berasal dari Lampung yang terkenal dengan daerah di mana banyak menampilkan pertandingan gajah.

Pada pertandingan gajah yang sering dilakukan di daerah Lampung tersebut, pawang gajah juga bertindak sebagai wasit. Mereka bisa mengatur jalannya pertandingan antar gajah tersebut, gajah mana yang mencetak gol, atau gajah mana yang akan bermain baik dengan menggiring bola. Karena itu akhirnya apabila terjadi match fixing akan disebut dengan “Sepakbola Gajah” karena serupa dengan pertandingan gajah di Lampung.

Indonesia vs Thailand sampai PSIS vs PSS

Istilah match fixing baru benar-benar mengemuka pada era milenium baru. Karena itu banyak orang Indonesia menggunakan istilah sepakbola gajah untuk menggambarkan pertandingan yang terindikasi terjadi pengaturan maupun suap.

Salah satu yang paling fenomenal terjadi di Piala Tiger (kini Piala AFF Suzuki) edisi tahun 1998. Pertandingan terakhir fase grupIndonesia menghadapi Thailand. Di laga tersebut keduanya sudah sama-sama memastikan diri lolos ke semifinal.

Anehnya bukan saling mengalahkan, Indonesia dan Thailand malah sama-sama mengincar kekalahan agar tidak bertemua tuan rumah Vietnam yang tengah begitu menakutkan. Kala itu Mursyid Effendi menjadi pemain pertama yang sengaja melakukan gol bunuh diri yang membuat Thailand merespon dengan melakukan tindakan serupa.

Selanjutnya, terjadi pada pertandingan babak delapan besar Divisi Utama Grup 1 2014, yang mempertemukan PSS Sleman vs PSIS Semarang berjalan tidak seperti pertandingan seperti biasanya.  Pertandingan dimenangkan oleh PSS Sleman dengan skor 3-2. Tapi kedua kesebelasan seakan tidak begitu serius bertanding karena ingin menghindari Borneo FC di babak semifinal.

Pada akhirnya, total 50 pemain dari kedua kubu tim disanksi oleh Komisi Disiplin PSSI. Empat tahun pasca keputusan sanksi dari Komisi Disiplin PSSI, 23 pemain termasuk pelatih PSS Sleman, Herry Kriswanto mendapat vonis bebas, setelah mendapat hukuman tidak boleh berkiprah di sepakbola Indonesia seumur hidup.

Situasi yang terjadi di laga antara PSS melawan PSIS ini kemudian bukan hanya semakin memantik rivalitas dan kebencian antara kedua klub. Tetapi juga mencoreng wajah sepakbola Indonesia yang kala itu tengah mencoba keluar dari situasi tidak kondusif karena tengah berada dalam dualisme kepemimpinan di tubuh PSSI, dan berada dalam ancaman terkena sanksi dari FIFA.

Bergabunglah bersama kami dalam menulis masa depan dari sepakbola

Latest articles

Tinggalkan Komentar

Pedoman Berkomentar

Mari berkomentar dengan sopan dan hindari penggunaan bahasa atau frasa yang dapat disalahartikan sebagai menyinggung. Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi syarat penggunaan kami. Terima kasih!


Silakan masuk atau daftar untuk melihat dan menulis komentar.